Zainab binti Jahsy ( wafat 20 H )
Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah
sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah
istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab
adalah anak perempuan dari bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul
Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.
Nasab dan Masa Pertumbuhannya
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti
Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin
Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah,
namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab
setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti
Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan
di Mekah dua puluh tahun sebelum kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin
Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik.
Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat,
sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy menyebutnya dengan
perempuan Quraisy yang cantik.
Zainab termasuk wanita pertama yang
memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya
sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya.
Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.
Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah
Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang
memerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal
dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak
Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin
menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari
keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih
kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian
dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid
radhiyallahu ‘anha, lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam.
Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil,
senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah
Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama
beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku
tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain
yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus
paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan
pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang
yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa
berada di dekat Nabi, terutama setelah dia meninggalkan Mekah, sehingga
beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,
“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)
Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid
dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan
kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau
mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak
peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia
ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah
berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali
selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap
hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”
Masih banyak riwayat yang menerangkan
kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sesampainya di
Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah.
Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga
dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang
gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah
menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau,
sehingga turunlah ayat kepada mereka:
“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang
mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah
dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S.
Al-Ahzab: 36)
Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid
sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab
tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia
kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan
itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliyah yang senang
membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat
menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara
mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya
sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan
perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat
beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan
bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.
Mendengar itu, beliau bersabda,
“Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian
beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah.
Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan
bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan diri dan bersabar,
namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya
terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi
pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk
menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah.
Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama
dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun
ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu)
dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada
sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka
(panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.”
(QS. Al-Ahzab:5)
Karena itu, seseorang tidak berhak
mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat
(bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah
bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak
Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya
kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak
memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan
istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata
kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu
(juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan
bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa
yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang
Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan
kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk
(mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak
angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah
ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)
Ayat di atas merupakan perintah Allah
agar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menikahi Zainab dengan tujuan
meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.
Menjadi Ummul-Mukminin
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah
tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan
pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.
Zainab mulai memasuki rumah tangga
Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang
berasal dari kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika
memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau
selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan
kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.
Orang-orang munafik yang tidak senang
dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah
telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang
berbunyi,
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak
dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan
penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)
Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah
istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara
mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah
menikahkanku denganmu atas perintah dari langit, dan Jibril yang membawa
perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki
hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat
mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi,
dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah
pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai
hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay
bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.
Zainab bertangan terampil, menyamak kulit
dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya
diinfakkan di jalan Allah.
Wafatnya
Zainab binti Jahsy adalah istri
Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun
kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalam
usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalam sebuah riwayat
dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah menyiapkan
kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka
bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan
semua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Semasa hidupnya,
Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.
Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga
Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalam kedudukannya di hati
Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya
daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling
jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak
bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat
bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia
yang memiliki tabiat yang keras.”
Semoga Allah memberikan kemuliaan
kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan
bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar